Lewati ke konten utama
Girl We Can
Moderator
Membuat pertanyaan baru saja

Pernah punya pasangan yang status ekonominya jauh lebih tinggi atau jauh lebih rendah dari kalian? Bisa dijalanin gak?

Punya pertanyaan seputar karir, bisnis, jurusan kuliah, tips merawat diri, dan problema kehidupan lainnya, Beb? Lemparkan pertanyaanmu di sini, dan mungkin pertanyaanmu akan dijawab oleh para perempuan hebat lainnya yang punya pengalaman serupa!

Hai, aku coba share cerita disini ya.

Kalau soal seperti ini sebenarnya bukan suatu hal yang perlu dibahas sih. Apapun itu, kalau namanya pasangan dengan kondisi dan background seperti gimana pun sih kalau memang cintanya tulus tentu akan saling menerima. Ya, kalau memang ada pertimbangan, sebaiknya segera katakan dari awal, akan menerima atau menolaknya. Jadi biar gak merasa minder atau lebih super satu sama lain.

Nah, kalau ditanya begini pernah ngalami gak. Tentu pernah. Alhamdulillah pasangan punya kondisi finansial jauh lebih baik di atas. Bukan berarti aku gak bagus. Cuma ya standar dalam artian akunya cukup. Tapi beliaunya jauh lebih cukup. Tapi hal itu sebenernya gak bisa dipandang sekilas kok. Mungkin orang melihat oh pasangan itu beruntung ya oh pasangan itu gak beruntung ya gara2 status ekonomi beda. Jangan deh, jangan sampai mikir begitu.

Alhamdulillah hubunganku terus berjalan baik malah. Aku juga bukan tipe orang yang bergantung. Tidak akan neko2 kalau urusan keuangan bila bukan hasil keringat sendiri. Beda urusan bila sudah dalam pernikahan. Soal siapa yang ekonomi lebih rendah atau tinggi tuh gak ada. Karena memang wajibnya pemberi nafkah adalah suami. Jadi kalaupun si istri kerja ya itu sudah kesepakatan bersama dengan alasan yang hanya tiap pasangan ketahui.

Jadi status ekonomi sama ataupun beda itu semua bisa dijalani dengan baik asalkan ada komunikasi dengan baik, pengertian, dan pastinya didasari slaing cinta dan sayang. Jadi gak akan ada tuh perasaan gimana2 dengan pasangan. Karena satu sama lain saling mengisi dan berbagi. 

Rizka Fauzia Ohorella
Analis QA/QC & side job seeker

Sejujurnya, aku belum pernah punya pasangan dengan kondisi keuangan jauh diatasku atau jauh dibawahku. Tetapi, aku punya beberapa teman kantor yang sudah menikah dan pasangannya memilih untuk bekerja di rumah, yaitu membuka usaha. Tetapi, penghasilan pasangannya yang bekerja dirumah jauh lebih rendah dibandingkan teman kantorku.

Saat melihat mereka, aku jadi berfikir. Sebenarnya, tak apa jika salah satu dari pasangan memiliki penghasilan yang lebih besar dari pihak lain. Toh, mereka pasangan yang telah berjanji dihadapan Tuhan untuk bersama. Satu dari temanku ikhlas bekerja dari pagi hingga petang, perjalanan rumah dia ke tempat kerja memakan waktu hingga 3 jam, demi menghidupi keluarga mereka. Padahal, temanku ini cewek.

Sumber :
Sumber : romadecade.org7

Dari dia juga aku belajar yang apa arti kerja sama dalam rumah tangga. Tak jarang mereka beradu mulut masalah ekonomi, tetapi yang diinginkan perempuan bekerja seperti temanku adalah kerja sama dari pasangannya. Menurutku, hal itu wajar saja terjadi. Karena tugas perempuan sebenarnya bukan sebagai tulang punggungkeluarga, bukan? Jadi, ia hanya meminta kerja sama dari pasangannya, bukan berupa uang mungkin, tetapi dalam wujud membantu membereskan rumah atau mengantar jemput anak.

Yang pasti, selama masih ada toleransi diantara keduanya dan juga masing-masing mapu dan mau menekan ego, aku rasa semua hal bisa dijalani dengan baik. Selalu ada jalan untuk mendapatkan uang, jika mereka mau berusaha.

Hi ku sharing ya.

Pernah dulu mantanku keadaan ekonominya lebih mapan dibanding aku. Tapi dia sih ga sombong dan emang ga pernah menujukan banget kalau dia kaya. 

Saat itu bisa aja sih dijalanin gaada masalah soal itu. Karena kita pun pacaran pada saat itu ya saling take and give aja. Kadang aku yang bayar makan atau nonton, kadang dia, ganti gantian aja gitu. Karna emang belom nikah juga, jadi ya pengeluaran dibayar masing-masing aja.

Tapi kalau lagi ada plan traveling bareng, kayak beli tiket pesawat atau hotel, biasanya nanti dia yang bayarin duluan, nanti aku baru bayar ke dia. Yang penting jangan ada hutang biar nantinya ngga repot sendiri, apalagi kalau udah putus :)

Tini Agustin
Event Creator & Marcom

Hi, 

Untuk pasangan yang status ekonominya lebih rendah atau lebih tinggi tentu pernah banget. Sedikit cerita ya, dulu pasangan aku seorang wirausaha dibidang photo dan video, penghasilan yang dia dapatkan hanya dari project itu saja, yang sementara tidak setiap bulan project itu ada. Pada saat itu aku bekerja di sebuah perusahaan yang untuk penghasilan lumayan tinggi. Alhamdulillahnya hal ini ga menjadi beban buat aku atau suami, karena kita berdua dari awal sudah saling memahami kondisi masing-masing. Dengan kata lain saat kkita memutuskan untuk hidup bersama dia, ya berarti sudah mengerti dan bersedia dengan segala konsekuensi yang ada. Tidak sedikit teman-teman kerjaku membiacarakan hal ini, dimana suamiku lebih banyak dirumah sementara aku kerja diluar rumah dari pagi sampai sore atau kadang samapai malam. Untuk menghadapi itu semua aku orang yang ga terlalu ambil pusing, karena yang menjalani itu kita, dan yang tau bagaimana cerita didalamnya itu kita. Yang pasti aku tetap kasih support untuk suamiku waktu itu, dan begitu pun sebaliknya dia selalu menyemangati aku. 

Untuk masa depan, mau dengan siapapun kita memutuskan hidup, selama kita masih tidak mengenal lelah untuk berusaha, akan tidak mungkin masa depan kita suram. Itu pendapatku, alhamdulillah sekarang justru suamiku yang lebih banyak diluar rumah,  dan aku lebih banyak mengerjakan pekerjaan di rumah.